stack
[Close]

Jumat, 30 Maret 2012

Empat Gaya Pertengkaran Pemicu END

Tak ada yang salah dengan pertengkaran. Tapi jangan sampai pertengkaran dipenuhi drama sehingga masalah yang diperdebatkan tak kunjung selesai atau justru bertambah parah.

Gottman Relationship Institute, sebuah badan yang melakukan terapi dan konseling pada pasangan berbasis di Amerika Serikat, mengindentifikasi empat gaya pertengkaran paling berisiko memicu perpisahan. Kenali cirinya, agar Anda bisa menghindarinya.
 
1. Apakah Anda suka menghina?
Jika Anda tidak menghormati pasangan ketika bertengkar, segera lakukan introspeksi diri. Anda tentu ingin tetap dihormati pasangan, jadi lakukan juga hal itu padanya. Rasa tak menghormati juga bisa muncul karena banyak hal.

"Pahami sumber kata penghinaan itu berasal. Mungkin ada pengalaman masa lalu, yang tidak terkait dengan hubungan. Rasa kesal yang terpendam membuat amarah meledak dan sangat merusak hubungan," kata Arpita Anand, seorang psikolog, dikutip dari Idiva.

2. Penuh kritik
Saling mengkritik dengan pasangan, memang baik. Tapi, jangan sampai pasangan selalu merasa salah di mata Anda. Seringkali, pertengkaran dipicu karena Anda melontarkan kritik dengan cara yang menyakitkan. Padahal, ada banyak cara untuk mengkritik pasangan dengan cara lebih manis.

"Belajarlah untuk mempertanyakan motif di balik kritik Anda. Jika ingin memberitahu sesuatu, Anda bisa membuat pernyataan positif yang Anda yakini benar. Kemudian, berbicaralah tentang aspek-aspek negatifnya," kata Neeta Shetty, seorang psikolog.

Jangan gunakan frase seperti, "Kamu tidak akan pernah berubah" dan "Saya tidak berharap sesuatu yang lebih baik dari kamu". Pendekatan Anda harus positif, usahakan untuk selalu menghindari pernyataan menyudutkan.

3. Anda selalu memilih diam?
Diam juga salah satu hal yang sangat merusak hubungan. Masalah yang harusnya diselesaikan dengan saling berbicara, malah menumpuk karena Anda memilih diam.

"Beberapa orang memilih diam, tak melakukan komunikasi dan ingin pasangannya menyadari sendiri kesalahan yang dilakukannya. Faktanya, pikiran Anda tak bisa dibaca, sadari itu!" kata Netty.

4. Selalu merasa jadi korban
Menempatkan diri Anda selalu jadi korban dan pasrah, sementara pasangan adalah orang yang selalu salah? Bisa jadi Anda, "ratu drama". Masalah kecil bisa jadi besar, hanya gara-gara emosi Anda yang meluap-luap.

Jangan biarkan emosi menguasai dengan merasa Anda adalah orang yang paling dirugikan. Pertengkaran bisa jadi semakin panas saat Anda mulai bersikap penuh drama. Jangan biarkan hanya karena itu, hubungan berujung perpisahan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...